Masih Mau Berhutang Riba? Simak 7 Dalil Berikut Yang Akan Membuat Anda Berpikir 1000 Kali Sebelum Mengambil Riba.

Apakah Anda masih tertarik mengambil hutang riba lagi? Mau tambah rumah, mobil, dan kendaraan lain dengan hutang riba? Atau Anda kenal dengan orang yang tengah berhubungan dengan riba? Atau, jika tidak berhubungan, hanya “bersenggolan” saja?

Faktanya, memang pada hari ini hampir tidak ada manusia di bumi ini yang tidak berhubungan dengan riba. Padahal, seluruh ulama sepakat, bahwa riba itu hukumnya haram. Karena jelas sekali tercantum di dalam ayat suci Al-Quran.

Mengapa bisa sampai seperti itu? Bisa jadi, orang-orang yang masih berhubungan dengan riba belum banyak tahu atau lupa dengan dalil-dalil ancaman bagi pemakan riba. Tentunya hukumnya juga sama dengan pemberi riba, pencatatnya, dan juga saksi-saksinya.

Nah, berikut ini adalah 7 dalil tentang ancaman dan bahaya riba. Yang begitu mengerikan, sampai-sampai akan membuat siapapun para pengambil riba akan susah tidur. Dan membuat yang berniat mengambil akan berpikir setidaknya 1000 kali sebelum memutuskan untuk mengambil riba.

1. Seperti Mati Dalam Keadaan Kafir, Masuk Neraka ‘Selama-lamanya’

وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ…

“..dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni Neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

(QS. Al-Baqarah : 276)

Na’udzubillah.. Padahal seperti yang kita tahu bersama, satu-satunya golongan yang akan masuk neraka selama-lamanya, hanyalah orang kafir saja. Jika orang muslim, meskipun banyak dosa dan maksiat, namun ia masih punya iman, insyaAllah akhirnya akan masuk surga juga.

Mungkin Anda heran. Apa mungkin ada satu maksiat atau dosa yang meskipun kita muslim, namun tetap bisa menjerumuskan kita ke dalam neraka selama-lamanya? Selain murtad tentunya. Yes. Satu dosa atau maksiat itu adalah memakan riba. Sudah faham kan, berarti dosa riba ini memang luar biasa besar.

Coba Anda bayangkan…

Anda sudah mengerjakan sholat fardhu 5 waktu, selalu tepat waktu, selalu berjamaah di masjid, tak pernah terlewat. Juga rajin dzikir dan doa.

Tapi masih mengulang-ulang mengambil riba, maka tempatnya di NERAKA, dan akan KEKAL di dalamnya..!!

Tiap tahun selalu menjalankan ibadah puasa Ramadhan, nggak pernah bolong sama sekali. Ditambah tarawih, beserta tahajudnya.

Tapi masih mengulang-ulang mengambil riba, maka tempatnya di NERAKA, dan akan KEKAL di dalamnya..!!

Sudah pernah naik haji, umroh setiap tahun.. Naik haji berkali-kali, umroh pun berkali-kali.

Tapi masih mengulang-ulang mengambil riba, maka tempatnya di NERAKA, dan akan KEKAL di dalamnya..!!

Na’udzubillahimindzalik1 Adakah ancaman pelanggaran syariat yang lebih mengerikan dari ayat ini?

Meski memang, ada penafsiran bahwa makna hum fiiha khaalidun (mereka kekal di dalamnya) itu ada 2 kemungkinan. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Sasytah berikut ini.

Kemungkinan pertama, ada jenis orang yang memang betul-betul akan masuk neraka selama-lamanya. Benar-benar tak akan menginjakkan kaki si surga. Yaitu mereka yang punya keyakinan yang absolut atau mutlak bahwa riba itu tidak haram sama sekali.

Kira-kira begini yang orang ini katakan. “Kata siapa riba itu haram?! Nggak benar itu! Bunga itu boleh! Nggak ada kata-kata haram!

Kalau memang secara i’tiqadi menolak syariat yang jelas-jelas qath’iy tsubut dan qath’iy ad-dilalah tentang keharaman riba itu, itulah yang bisa jatuh kafir. Dan seperti yang sudah kita ketahui bersama, orang kafir memang tempatnya di neraka selama-lamanya.

Kemungkinan kedua,  ada pula jenis orang yang masih saja terus mengulang-ulang mengambil riba, tapi sebenarnya ‘hati kecilnya’ tak suka hal tersebut. Karena orang ini paham bahwa sebetulnya riba itu haram hukumnya. Hanya saja dia tetap melakoni riba, dengan berbagai alasan. Kepepet, terpaksa, niatnya sedekah aja, riba yang diambil sedikit saja, dan lain sebagainya.

Nah untuk yang jenis kedua tersebut, insyaAllah tidak akan masuk neraka selama-lamanya. Hum fiiha khaalidun dimaknai mubalaghah, berarti maksudnya orang ini masuk nerakanya dalam waktu yang lama sekali. Entah berapa juta tahun akhirat, atau berapa milyar tahun akhirat. Pokoknya lama deh.

Namun, bila ia tetap punya iman bahwa riba itu haram, maka suatu ketika, dia akan diangkat dari neraka oleh malaikat.

Lalu dicelupkan ke sungai surga, dan masuk surga juga akhirnya.

Nah, pilihan tinggal ada di tangan kita masing-masing.

Kalau saya sih, insyaAllah nggak mau pilih dua-duanya. 😀

Bagaimana dengan Anda?

2. Menantang Perang Dengan Allah dan Rasul-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu..”

(QS. Al-Baqarah: 278-279)

Wah, yang ini juga bukan main ancamannya. Tamatlah sudah kalau sampai kita diajak perang dengan Allah dan Rasul-Nya. Lansung KO. Nggak habis pikir ada orang yang berani menantang Allah dan Rasul-Nya untuk perang.

Perang dengan manusia yang lainnya saja belum tentu kita menang. Ayat ini menunjukkan bahwa dosa riba ini benar-benar dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

3. Dosanya Lebih Mengerikan Daripada 3 Kali Berzina Dengan Pelacur

  دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang, sementara ia tahu (bahwa itu riba), lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur.”

(HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

Apakah Anda atau orang kenalan Anda pernah berzina? InsyaAllah saya yakin tidak pernah. Jangankan pernah berzina, niat pun pasti tak pernah terbersit di hati.

Tapi jangan tenang dulu. Ada yang seolah-olah tidak pernah berzina seumur hidupnya, namun mendadak langsung 36 kali berzina dengan pelacur !! Na’udzubillahimindzalik! Siapakah itu? Dialah pemakan riba.

Itupun jika riba yang dimakan senilai 1 dirham. Atau sekitar Rp. 60.000. Nah bagaimana jika makan ribanya sampai Rp. 600.000? Atau Rp. 6.000.000? Apalagi Rp. 600.000.000?

Wah, tak terbayang deh betapa banyak dosa yang harus ditanggung.

Namun tentunya kita sangat berharap dan senantiasa berusaha untuk mencegah agar tak terjadi satu perzinaan pun. Apalagi riba. Pembaca Blog Rumah Syariah Berkah ini pastinya tak akan mau mengambil riba kan? Berapapun itu. 🙂

4. Seperti Berzina Dengan Ibu Kandung Sendiri

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ

“Dosa riba itu ada 73 pintu. Yang paling ringan adalah setara dosa seseorang yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.”

(HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya, bahwa dosa berzina saja sudah besar sekali. Apalagi berzina dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillahimindzalik!

Makin besar pastinya dosanya! Padahal, dosa yang sudah terlampau besar itu adalah dosa riba yang paling ringan.

Jika sudah begitu, patutlah kita khawatir tidak akan masuk surga. Katanya kan surga berada di bawah telapak kaki ibu. Bukannya berbakti dengan ibu, malah dizinai. Sungguh tak terbayang betapa mengerikannya.

5. Seperti Mempersilahkan Allah, Agar Sekampung Kena Adzab

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.”

(HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Al-Thabrani)

Masihkah heran di negara kita Indonesia yang tercinta ini senantiasa banyak masalah, bencana, dan lain sebagainya? Jika kita mau berintrospeksi, mungkin semua hal tersebut terjadi lantaran adzab.

Jika kita mendapat musibah, yang perlu kita lakukan adalah bersabar. Namun jika kita mendapat adzab, yang perlu kita lakukan adalah berhenti melakukan maksiat-maksiat, dan bertobat. Tidak bisa tidak, perbuatan dosa kita harus distop.

Karena memang segala kerusakan yang timbul di muka bumi ini adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri. Maka, sengaja Allah membuat kita merasakan kerusakan-kerusakan hasil perbuatan maksiat kita tersebut, agar kita dapat mengambil pelajaran dan kembali bertaqwa kepada Allah (stop maksiat lagi).

Sekali lagi, tidak bisa tidak, agar berbagai macam permasalahan di dunia ini, khususnya di Indonesia, bisa terselesaikan, kita tidak hanya harus bersabar sementara maksiat jalan terus. Tapi kita juga harus menghentikan maksiat tersebut. Termasuk diantaranya perzinaan dan riba. Yang sekarang dilegalkan oleh Undang-undang.

Langkah tersebut bisa kita mulai dengan langkah-langkah kecil. Yaitu mulai dari diri kita sendiri. Jangan lagi bertransaksi secara ribawi. Seperti membeli rumah. Kini sudah mulai bermunculan cara membeli rumah tanpa riba, seperti perumahan-perumahan yang ada di sini.

6. Perutnya Membesar Sebesar Rumah, Isinya Ular Semua

Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pada malam aku Isra’, aku mendengar di langit ke tujuh diatas kepalaku, suara petir dan halilintar. Dan aku melihat kilat. Dan aku melihat orang-orang yang perutnya besar, sebesar rumah di dalam perutnya ada ular-ular yang terlihat dari luar perutnya itu. Aku bertanya pada Jibril Alaihissalam, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril Alaihissalam menjawab, “Para pemakan riba.””

7. Seperti Kesurupan Setan Ketika Dibangkitkan Dari Kubur

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.”

(QS. Al-Baqarah: 275)

Ayat di atas dimaksudkan ketika dibangkitkan dari alam kubur.

Seperti dijelaskan oleh Ibnu Katsir, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri, dimana ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia berdiri sangat sulit.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 278).

Nah demikianlah 7 dalil tentang betapa mengerikannya apabila mengambil riba itu. Mulai dari siksa dunia, siksa kubur, hingga siksa akhirat mengancam orang-orang yang bermuamalah dengan cara ribawi.

Sebelumnya mohon maaf apabila Anda kurang berkenan, tersinggung, dan sebagainya. InsyaAllah niat saya menuliskan artikel ini adalah sebagai pengingat terutama bagi diri saya sendiri dan juga saudara-saudara seiman tercinta, agar jangan sampai terjerat oleh riba.

Saya doakan bagi Anda yang masih terjerat riba agar dimudahkan Allah untuk segera melunasi hutang-hutang riba Anda dan segera istiqomah untuk mulai bertransaksi secara syariah.

Wallahu’alam bishshawab..

Salam sukses mulia penuh keberkahan

NOTE:
Mau update tips seputar rumah syariah dan juga inspirasi & motivasi Islami yang mencerahkan langsung melalui smartphone Anda? Invite PIN BBM: 5F4BA988. Dapatkan inspirasi yang menarik langsung melalui smartphone Anda setiap minggunya.

Artikel Terkait

Belajar Mengenal Riba dan Kaidah-kaidahnya
views 24
Sudahkah Anda mengenal apa itu Riba dan jenis-jenisnya? Jika Anda adalah pembaca setia dari blog rumah syariah berkah ini, insyaAllah sudah sedikit ba...
Pengertian Riba Dalam Islam Beserta Jenis-Jenisnya
views 373
Masih banyak orang yang masih awam dan belum paham mengenai riba. Memang memahami riba ini begitu penting. Karena seperti kita ketahui bersama, bahwa ...
Ilusi RIBA… Dan Kita Menikmatinya !
views 705
"Waaah selamat ya bu.. Mobil baru nih, platnya masih putih, interiornya masih wangi bau pabrik.." "Eh.. Iya.. iya jeng, makasih.. Alhamdulillah dik...
Kapan Seharusnya Meninggalkan Riba?
views 302
Kapan seharusnya meninggalkan riba - Kalau sekarang Anda terlilit riba, sebenarnya bukan hal yang aneh. Karena justru yang aneh itu kalau Anda tidak t...

Comments

comments

Nasuha Alhuda

Selain aktif di bisnis properti, aktif juga di bisnis fashion. Juga menjadi blogger di eksisbisnis.com. Sukses dunia akhirat bukan pilihan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *