Mengapa Perumahan Syariah Tidak Memakai Asuransi?

Salah satu hal yang sering menjadi hambatan atau keberatan masyarakat dalam membeli rumah secara syariah, yang tanpa riba, adalah tidak adanya asuransi di dalamnya. Ya, jika Anda membeli rumah secara syariah pada perumahan-perumahan syariah, hampir pasti rumah tersebut tidak akan diasuransikan.

Banyak orang menanyakan hal ini. Padahal kan sudah ada asuransi syariah.

Ternyata, banyak juga orang yang belum paham bahwa asuransi dekat sekali dengan riba. Malahan, di dalam asuransi terdapat unsur-unsur yang tidak diperbolehkan secara syariat, bukan hanya riba saja.

Oleh karena itu sudah jelas, bahwa perumahan syariah tidak akan menggunakan asuransi untuk rumah-rumah di dalamnya, karena haram. Sampai saat ini belum ada asuransi yang benar-benar syariah. Terlepas apapun labelnya, baik asuransi syariah, apalagi asuransi konvensional. Berikut ini adalah penjelasan mengapa asuransi itu diharamkan. Beserta unsur-unsur yang membuatnya menjadi haram.

===============

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut (Wikipedia).

Berbagai jenis asuransi asalnya haram.  Baik itu asuransi mobil, asuransi kesehatan, asuransi barang, asuransi jiwa, maupun asuransi properti (rumah). Secara ringkas, asuransi menjadi bermasalah dan haram karena di dalamnya ada unsur-unsur yang membuatnya menjadi haram. Seperti riba, qimar (unsur judi), dan ghoror (ketidakjelasan atau spekulasi tinggi).

Berikut ini adalah rincian mengapa asuransi menjadi haram dan terlarang:

Akad asuransi menganduh Ghoror (ketidakjelasan)

Akad yang terjadi dalam asuransi adalah akad untuk mencari keuntungan (mu’awadhot). Ketidakjelasan pertama terlihat dari kapan waktu nasabah akan menerima timbal balik berupa klaim. Tidak setiap orang yang menjadi nasabah bisa mendapatkan klaim. Ketika ia mendapatkan accident atau resiko, baru ia meminta klaim.

Padahal accident disini bersifat tak tentu, tidak ada yang bisa mengetahuinya. Boleh jadi seseorang mendapatkan accident setiap tahunnya. Boleh jadi seseorang tidak mendapatkan accident setiap tahunnya. Dan boleh jadi selama bertahun-tahun ia tidak mendapatkan accident. Ini sisi ghoror pada waktu.

Sisi ghoror lainnya adalah dari sisi besaran klaim sebagai timbal balik yang akan diperoleh. Tidak diketahui pula berapa besaran klaim tersebut. Padahal Rasulullah SAW telah melarang jual beli yang mengandung ghoror atau spekulasi tinggi sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah, beliau berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah SAW melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror (mengandung unsur ketidakjelasan)” (HR. Muslim no. 1513)

Asuransi mengandung Qimar atau unsur judi.

Bisa jadi nasabah tidak mendapatkan accident atau bisa pula terjadi sekali, dan seterusnya. Disini berarti ada unsur spekulasi yang besar. Pihak pemberi asuransi bisa jadi untung karena tidak mengeluarkan ganti rugi apa-apa. Suatu waktu, pihak asuransi bisa rugi besar karena banyak yang mendapatkan musibah atau accident.

Dari sisi nasabah sendiri, ia bisa jadi tidak mendapatkan klaim apa-apa karena tidak pernah sekalipun mengalami accident atau mendapatkan resiko. Bahkan ada nasabah yang baru membayar premi beberapa kali, namun ia berhak mendapatkan klaimnya secara utuh, atau sebaliknya.

Inilah judi yang mengandung spekulasi tinggi. Padahal Allah jelas-jelas telah melarang judi berdasarkan ayat berikut ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan.” 

(QS. Al Maidah : 90)

Asuransi mengandung Riba Fadhel & Riba Nasi’ah

Riba fadhel adalah riba perniagaan karena adanya sesuatu yang berlebih dan riba nasi’ah adalah riba karena penundaan secara bersamaan. Bila perusahaan asuransi ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim yang disepakati, dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima, maka itu riba fadhel.

Adapun bila perusahaan membayar klaim sebesar premi yang ia terima namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasi’ah (penundaan). Dalam hal ini nasabah seolah-olah memberi pinjaman pada pihak asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil dan ijma’ (kesepakatan ulama).

Asuransi termasuk bentuk judi dengan taruhan yang terlarang.

Judi kita ketahui terdapat taruhan, maka ini sama halnya dengan premi yang ditanam. Premi di sini sama dengan taruhan dalam judi. Namun untuk mendapatkan klaim atau timbal balik tidak setiap orang, ada yang mendapatkan, ada yang tidak sama sekali. Bentuk seperti ini diharamkan karena bentuk judi yang terdapat taruhan.

Ada bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil di dalam Asuransi.

Pihak asuransi mengambil harta namun tidak selalu memberikan timbal balik. Padahal dalam akad mu’awadhot (yang ada syarat mendapatkan keuntungan) harus ada timbal balik. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah SWT di dalam ayat berikut.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling ridho diantara kamu.” (QS. An Nisa : 29)

Terdapat bentuk pemaksaan tanpa ada sebab yang syar’i di dalam asuransi.

Seakan-akan nasabah itu memaksa accident itu terjadi. Lalu nasabah mengklaim pada pihak asuransi untuk memberikan ganti rugi padahal penyebab acciddent bukan dari mereka. Pemaksaan ini jelas haramnya.

 

Dalam rangka promosi, yang ditanam di benak kita oleh pihak asuransi adalah masa depan yang selalu suram. “Engkau bisa saja mendapat kecelakaan”, “Pendidikan anak bisa saja membengkak dan kita tidak ada perisapan”, “Rumahmu bisa saja terjadi kebakaran”,”Kita bisa saja butuh pengobatan yang tiba-tiba dengan biaya yang besar”.

Itu adalah slogan-slogan demi menarik kita untuk menjadi nasabah di peerusahaan asuransi. Tidak ada ajaran bertawakkal dengan benar. Padahal tawakkal adalah jalan keluar sebenarnya dari segala kesulitan dan kekhawatiran masa depan yang suram. Karena Allah SWT sendiri yang menjanjikan dalam firmannya sebagai berikut.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Tawakkal adalah dengan menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Namun bukan cukup itu saja, dalam tawakkal juga seseorang mengambil sebab atau melakukan usaha. Tentu saja, sebab yang diambil adalah usaha yang disetujui oleh syariat.

Dan asuransi adalah sudah diterangkan adalah sebab yang haram. Tidak boleh seorang muslim menempuh jalan tersebut. Untuk membiayai anak sekolah, bisa dengan menabung. Untuk pengobatan yang mendadak tidak selamanya dengan solusi asuransi kesehatan. Dengan menjaga diri agar selalu fit. Dan juga persiapan keuangan untuk menjaga kondisi kecelakaan tak tentu, itu bisa sebagai solusi preventif ytang halal. Begitu pula dalam hal kecelakaan pada kendaraan. Kita mesti berhati-hati dalam mengemudi dan hindari kebut-kebutan. Itu kuncinya.

Ingatlah setiap rizki tidak mungkin akan luput dari kita jika memang itu sudah Allah takdirkan. Kenapa selalu terbenak dalam pikiran dengan masa depan yang suram? Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasullah SAW bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah No. 2.144)

Dari penjelasan di atas tentu saja kita dapat menyimpulkan haramnya asuransi, apapun jenisnya jika terdapat penyimpangan-penyimpangan di atas meskipun mengatasnamakan “asuransi syariah” sekalipun.

Yang kita lihat adalah hakikatnya. Bukan sekedar nama atau slogan. Seorang muslim jangan tertipu dengan embel-embel syariah belaka. Betapa banyak orang memakai slogan “syariah”, namun nyatanya hanya sekedar bualan.

Seorang muslim tidak perlu mengajukan premi untuk tujuan asuransi tersebut. Klaim yang diperoleh pun jelas tidak halal dan tidak boleh dimanfaatkan. Kecuali jika dalam keadaan terpaksa mendapatkannya dan sudah terikat dalam kontrak kerja, maka hanya boleh memanfaatkan sebesar premi yang disetorkan semacam dalam asuransi kesehatan dan tidak boleh lebih dari itu.

Jika seorang muslim terlanjur terjerumus, berusahalah meninggalkannya. Perbanyaklah istighfar dan taubat serta perbanyak amalan kebaikan. Jika uang yang ditanam bisa ditarik, itu pun lebih ahsan (baik).

— Dikutip dari Akhthou Sya-i’ah fil Buyu’, Sa’id ‘Abdul ‘Azhim, terbitan Darul Iman—

Oleh Shinta, KSW (Kampung SyaREA World) #12

NOTE:
Mau update tips seputar rumah syariah dan juga inspirasi & motivasi Islami yang mencerahkan langsung melalui smartphone Anda? Invite PIN BBM: 5F4BA988. Dapatkan inspirasi yang menarik langsung melalui smartphone Anda setiap minggunya.

Artikel Terkait

Ilusi RIBA… Dan Kita Menikmatinya !
views 689
"Waaah selamat ya bu.. Mobil baru nih, platnya masih putih, interiornya masih wangi bau pabrik.." "Eh.. Iya.. iya jeng, makasih.. Alhamdulillah dik...
Belajar Mengenal Riba dan Kaidah-kaidahnya
views 11
Sudahkah Anda mengenal apa itu Riba dan jenis-jenisnya? Jika Anda adalah pembaca setia dari blog rumah syariah berkah ini, insyaAllah sudah sedikit ba...
Kapan Seharusnya Meninggalkan Riba?
views 297
Kapan seharusnya meninggalkan riba - Kalau sekarang Anda terlilit riba, sebenarnya bukan hal yang aneh. Karena justru yang aneh itu kalau Anda tidak t...
Pengertian Riba Dalam Islam Beserta Jenis-Jenisnya
views 366
Masih banyak orang yang masih awam dan belum paham mengenai riba. Memang memahami riba ini begitu penting. Karena seperti kita ketahui bersama, bahwa ...
Tentang Tanpa Riba dan Bebas Riba
views 815
Kampanye anti riba akhir-akhir ini semakin marak saja. Kesadaran masyarakat akan bahaya dan dosa riba mulai tinggi. Bagi yang belum pernah mengambil r...
Ini Cara Kapitalisme Menguasai Dunia
views 1.4k
Kapitalisme adalah sistem ekonomi dimana perdagangan, industri, dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntung...

Comments

comments

Nasuha Alhuda

Selain aktif di bisnis properti, aktif juga di bisnis fashion. Juga menjadi blogger di eksisbisnis.com. Sukses dunia akhirat bukan pilihan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *